Matcha IceCream

Matcha IceCream
Matcha IceCream

Rabu, 26 Maret 2014

Konsep Diri & contoh ketidak sehatan mental

Saya adalah Azmi Brilianti saya anak ke dua dari tiga bersaudara, saya satu satunya anak perempuan dari orang tua saya. saya adalah orang yang ramah dan mudah bergaul dengan orang lain tetapi saya seorang yang mudah marah, saya bukan orang yang cuek dengan orang di sekitar saya saya juga orang yang perhatian dengan orang lain. 

Banyak orang yang belum kebal saya, saya dibilang orang yang jutek dan galak. Jika sudah kenal saya orang yang ramah baik dan mudah tersenyum, kata teman - teman saya, saya orang yang bawel



Periksa Fisik, Periksa Mental, Sama Pentingnya


MEMASUKI usia 40, para karyawan di perusahaan-perusahaan yang sehat biasanya diminta general check up. Pemeriksaan kesehatan menyeluruh, untuk mengetahui bagian mana tubuh yang sudah aus dan harus diperbaiki. Agar terus produktif, dan lebih produktif, sampai kemudian pensiun di usia 55-60 tahun. Sesuai kebijakan perusahaan masing-masing.
Dokter gigi menasehati agar pemeriksan gigi enam bulan sekali. Tes gula darah idealnya sebulan sekali. Juga pemeriksan asam urat, kolesterol, jantung, dan lain-lainnya.
SSJ-DMS-20M-475
Kita tahu, dengan tuntutan karir dan kerja yang terus meningkat, kompetesi kehidupan di kota-kota besar, setiap orang melakukan eksploitasi pada diri sediri  – atau mengikuti tuntutan perusahaan – untuk meningkatkan produktifitas  – dengan sering mengorbankan kesehatannya.
Tak banyak yang menyadari selain pemeriksan fisik secara berkala, juga pemeriksaan emosi dan stabilitas mental.  Terutama bagi mereka yang bekerja di mempertaruhkan nyawa sendiri atau orang lain.
Sopir, masinis, nakhkoda dan pilot, misalnya, membawa kendaraan angkutan massal, puluhan hingga ribuan orang – harus sehat jiwa dan raga. Selain mempertaruhkan nyawa sendiri, mereka mempertaruhkan nyawa banyak orang.
Demikian pula polisi, yang mendapat mandat memegang pistol dan harus bertarung nyawa dengan pelaku kejahatan.  Ketidak-stabilan emosi akan membuat tangannya “gatal”,  spontan menyambar senjata dan membahayakan orang lain.
Pistol bukan hanya kebanggan buat polisi. Dengan kemampuannya melumpuhkan penjahat dan mencabut nyawa orang lain, pistol harus dipegang dan dikendalikan oleh orang yang stabil dan bisa menahan diri.
Karena itu, penting bagi pak polisi – terutama di wilayah yang sumpek, polutif, kerja penuh tekanan, kerap stress, depresi, seperti di ibukota ini – menjalani pemeriksaan mental secara rutin. – dimas.

 sumber :
http://poskotanews.com/2014/03/20/periksa-fisik-periksa-mental-sama-pentingnya/

Selasa, 25 Maret 2014

Tugas Pertemuan I Kesehatan Mental 2PA10

Pengantar :

a.       Orientasi kesehatan mental
Kesehatan mental bukanlah disiplin ilmu yang berdiri sendiri, kesehatan mental ini terdiri dari banyak bidang ilmu baik yang secara langsung membidangi kesehatan ataupun tidak. Dibalik berbagai konsep kesehatan mental beberapa ahli menemukan orientasi umum dan pola wawasan mental. Salah satu yang mengembangkan orientasi umum dan pola wawasan mental ini adalah Saparinah Sadli. Beliau mengemukakan tiga macam orientasi besar dalam kesehatan mental. Pertama orientasi klasik, orientasi penyesuaian diri dan yang terakhir adalah orientasi pengembangan potensi.
Pertama beliau mengemukakan tentang orientasi klasik. Orientasi klasik menurutnya adalah “seseorang dianggap sehat apabila ia tidak mempunyai keluhan tertentu seperti ketegangan, rasa lelah, cemas, rendah diri atau perasaan tidak berguna yang semuanya menimbulkan perasaan sakit atau rasa tidak sehat, serta menggangu efisiensi kegiatan sehari-hari”. Dalam definisi ini, orientasi klasik mengemukakan orang yang sehat berarti orang yang tidak mempunyai berbagai keluhan yang berakibat sakit untuk dirinya di dalam kehidupan sehari-hari. Seperti tidak cepat merasa lelah, cemas, tidak percaya diri, cepat putus asa, perasaan tidak berguna dan lain sebagainya. Biasanya ranah cakupan orientasi klasik ini banyak berkembang didunia kedokteran.
                  Kedua Saparinah Sadli mengemukakan, orientasi penyesuaian diri. Orientasi penyesuaian diri adalah “seseorang dianggap sehat mental bila ia mampu mengembangakan dirinya sesuai dengan tuntutan orang-orang lain serta lingkungan sekitarnya”. Definisi diatas berarti, orang dikatan sehat apabila ia mampu bergaul dengan orang-orang disekitarnya. Karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan pernah bisa untuk hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.
Terakhir beliau megemukakan tentang orientasi pengembangan potensi. Orientasi pengembangan potensi menurut beliau adalah “seseorang dianggap mencapai taraf kesehatan jiwa bila ia mendapat kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan sehingga ia bisa dihargai oleh orang lain dan dirinya sendiri. Definisi diatas berarti orang dikatakan sehat apabila ia berhasil mengembangkan dirinya sesuai dengan bakat dan kreativitas yang ia miliki sehingga ia bisa dihargai oleh masyarakat diluar sana.
Dengan demikian kita dapat membedakan pengertian dari apa yang dimaksud dengan orientasi klasik, orientasi penyesesuaian diri dan yang terakhir orientasi pengembangan potensi.

b.      Konsep sehat
Kita mengetahui bahwa banyak sekali faktor yang mempengaruhi kesehatan manusia , bahkan ada sebuah statistik dari WHO yang menggambarkan bahwa di dunia hanya 15% orang yang benar-benar sakit dan harus dirawat di rumah sakit, 15% lagi adalah orang yang benar-benar sehat, dan 60% selebihnya adalah orang yang sehat tetapi gampang terserang penyakit, yaitu contohnya seperti saya dan anda yang mudah terkena flu, masuk angin, pusing dan lain sebagainya. Kesehatan manusia dipengaruhi oleh 6 faktor yaitu :
1.      Udara
2.      Air
3.      Makanan dan Minuman
4.       Keseimbangan Emosi
5.       Olahraga Teratur
6.      Istirahat Cukup
Apabila ke enam faktor tersebut terganggu atau bermasalah maka otomatis kesehatan kita juga akan terganggu , mau atau tidak mau, sadar atau tidak kita hidup dizaman penuh polusi dari zat kimia baik itu air, udara maupun makanan dan minuman yang kita konsumsi sehari-hari.
c.       Sejaran perkembangan kesehatan mental
Menurut sejarah, salah satu peristiwa paling penting dalam perkambangan bidang kesehatan masyarakat di Amerika serikat adalah pemisahannya dari layanan medis. Meskipun sejarah awal kesehatan masyarakat meliputi pemberian layanan kesehatan pribadi, aktivitas tersebut biasanya menjadi bagian dari pelaksana kekuasaan kebijakan pemerintah untuk mencegah penyebaran penyakit menular yang berbahaya. Pemerintah di tingkat Negara bagian, county, dan kota dilibatkan dalam layanan medis tetapi hingga saat ini keterlibatan itu masih melalui instansi terpisah yang menyangkut perbaikan, kesejahteraan, dan kesehatan mental.
            Otiritas kesehatan biasanya merupakan dokter yang dipilih untuk pekerjaan mereka oleh dewan kesehatan, yang didominasi oleh para dokter. Banyak tenaga kesehatan lokal dan Negara bagian sejak lama berpendapat bahma kesehatan masyarakat tidak berhak memberikan layanan medis. Perbedaan pendapat mengenai peran layanan medis dalam kesehatan masyarakat dan sebaliknya terjalin kuat dalam sejarah American Public Health Association, yang divisi medical care-nya semakin menonjol karena divisi Health officer tetap dengan pendapatnya, bahwa layanan medis bukanlah layanan kesehatan masyarakat. Namun, pada tahun 1970-an, divisi health officer mengganti julukannya menjadi divisi Health administration dan mulai memperluas cakupan bidangnya.

Teori Kepribadian
a.       Aliran Psikoanalisa
Konsep mental yang aktif. Konsep ini terutama dianut oleh para ahli di Jerman. Pada waktu ini peran dominan strukturalisme di Jerman telahndiambil alih oleh aliran Gestalt. Paham Gestalt menganggap struktur pengorganisasian mental manusia adalah inherent. Struktur ini memungkinkan manusia belajar dan mendapatkan isi mental itu sendiri. Dengan demikian, Gestalt berfokus pada konsep mental yang aktif namun tetap empiris. Psikoanalisa mengikuti keaktifan mental dari Gestalt (Freud dengan psikodinamikanya pada level kesadaran dan non kesadaran) namun tidak empiris. Tidak seperti aliran lainnya, psikoanalisa berkembang bukan dari riset para akademisi, tapi berdasarkan pengalaman dari praktek klinis. Perkembangan treatment terhadap gangguan mental. Pada masa ini penanganan terhadap penderita gangguan mental sangat tidak manusiawi dan disamakan dengan para pelaku kriminal serta orang-orang terlantar. Reformasi dalam penanganan penderita gangguan mental diawali dengan perbaikan fasilitas pengobatan, akhirnya mengarah pada perbaikan di bidang teknik terapi bagi gangguan emosional dan perilaku.
b.      Aliran Humanistik
Tokoh yang berpandangan dalam teori ini adalah:
  • Abraham H maslow
Maslow merupakan anak imigran rusia yang lahir di Brooklyn,pada awalnya dia yang mengawali penelitiannya sebagai mahasiswa Ph.D di universitas Wisconsin dengan menggunakan teori-teori waston dan mengawali penelitiannya dengan menemukan persamaan antara kera dan manusia,namundikarenakan banyak beberapa kejadian salah satunya dalam perang pearl harbor maka dia menerapkan pandangannya kedalam teori humanistic.
Dalam pandangannya maslow memandang jiwa yang sehat merupakan dia yang bisa menggembangkan kemampuan dankekuatan yang ada didalam dirinya sendiri sedangkan jiwa yang tidak sehat adalah dia yang sedang terganggu jiwanya dan anti terhadap situasi social. Dan teori yang terkenal adalah teori hierarki kebutuhan yang menjelaskan lima macam kebutuhan manusia yang pada posisi palin bawah terdapat kebutuhan fisiologik(co;makan,minum),safety need(kebutuhan rasa aman),belongingness and love need(kebutuhan untuk dimiliki dan  dicintai),esteern needs (kebutuhan hargadiri),self actualization (aktualisasi diri)
  • Carl R rogers
Roger dilahirkan dalam keluarga besar tradisional yang harmonis di daerah pertanian di Illinois amerikaserikat.
Dalam pandangannya roger berpendapat jiwa yang sehat merupakan dia yang dapat berfungsi sepenuhnya dalam hal ini dia yang terbuka dengan pengalaman-pengalaman,percaya pada diri sendiri,kreatifitas dan perasaan bebas
Dia juga mengembangkan suatu metode terapi yang menempatkan tanggung jawab utama terhadap perubahan kepribadian pada klien,bukan pada ahli terapi(client-centered therapy)metode ini menggambarkan bahwa klien mempunyai tingkat kemampuan kesadaran tertentu dalam menjelaskan masalah yang dihadapinya.
Penerapan teori humanistic
Salah satunya penerapan yang di lakukan di dalam bidang pendidikan menggunakan teori humanistik didalam proses belajar yang menghasilkan
  1. Guru sebagai fasilitator
memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran
  1.  Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri
  2. Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar
c.       Pendapat Fromm
 Dalam buku Fromm yang pertama “Escape from freedom” (1941), menjelaskan pandangannya tentang kondisi manusia: dalam sejarah peradaban Barat yang penduduknya mendapatkan kebebasan yang lebih, mereka menjadi merasa kesepian, terasing dan ketidakberdayaan. Sebaliknya semakin berkurang mendapat kebebasan maka mereka akan merasa lebih aman diterima oleh masyarakat. Fromm memberi contoh orang-orang yang hidup di abad 20 yang menginginkan kebebasan yang lebih besar dari abad lainnya, akan merasa lebih kesepian dan terasing dibandingkan dengan orang-orang dari abad sebelumnya.
Untuk mengerti konteks yang saling berlawanan ini, kita harus menyadari sejarah dari pemerintahan barat, seperti yang disampaikan Fromm. Dia mengawali dengan diskusi tentang evolusi manusia dan mencatat perbedaan antara sifat-sifat alami binatang dengan manusia. Manusia adalah makhluk yang bebas dari mekanisme insting biologis yang menuntut perilaku kebinatangan. Karena kita memiliki kesadaran yang sadar dan kemampuan untuk menguasai alam, sehingga kita tidak sama lagi dengan alam, seperti hewan yang tingkatannya lebih rendah. Fromm menyatakan bahwa orang-orang pada zaman dahulu mencoba untuk keluar dari perasaan terasing dari alam dengan mengidentifikasi diri dengan kelompok atau suku mereka. Saling berbagi mitos, kepercayaan dan ritual kuno. Mereka mendapatkan rasa aman dengan bergabung dalam sebuah kelompok memberikan penerimaan, hubungan dan seperangkat budaya dan aturan.  
Penyesuayan diri :


Konsep penyesuayan diri

Makna akhir dari hasil pendidikan seseorang individu terletak pada sejauhmana hal yang telah dipelajari dpat membantunya dalam menyesuaikan diri dengan kebutuhan-kebutuhan hidupnya dan pada tuntutan masyarakat. Sejak lahir sampai meninggal seorang individu merupakan organisme yang aktif dengan tujuan aktivitas yang berkesinambungan. Ia berusaha untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan jasmaninya dan juga semua dorongan yang memberi peluang kepadanya untuk berfungsi sebagai anggota kelompoknya, penyesuaian diri secara harmonis, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya.
 


Sumber :
Pickett. G,, Hanlon. J. J,, Penerbit buku kedokteran EGC Kesehatan Masyarakat administrasi dan praktiik
Rochman, Khoil Lur. (2010), kesehatan mental,Purwokerto : Stain Press
Sarlito W.Sarwono. 2002.”Berkenalan dengan aliran-aliran dan tokoh-tokoh Psikologi”, Bulan Bintang
1991.Psikologi pertumbuhan,Kanisius 
Fatimah, Enung.2010.Psikologi Perkembangan (Perkembangan Peserta Didik).Jakarta : Cv Pustaka Seti


Rabu, 25 Desember 2013

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS PENGGUNAAN FACEBOOK DENGAN PENGUNGKAPAN DIRI (INTRAPERSONAL)

Pengertian intrapersonal Komunikasi intrapersonal merupakan keterlibatan internal secara aktif dari individu dalam pemrosesan simbolik dari pesan-pesan. Seorang individu menjadi pengirim sekaligus penerima pesan, memberikan umpan balik bagi dirinya sendiri dalam proses internal yang berkelanjutan. Komunikasi intrapersonal dapat menjadi pemicu bentuk komunikasi yang lainnya. Pengetahuan mengenai diri pribadi melalui proses-proses psikologis seperti persepsi dan kesadaran (awareness) terjadi saat berlangsungnya komunikasi intrapribadi oleh komunikator. Untuk memahami apa yang terjadi ketika orang saling berkomunikasi, maka seseorang perlu untuk mengenal diri mereka sendiri dan orang lain. Karena pemahaman ini diperoleh melalui proses persepsi. Maka pada dasarnya letak persepsi adalah pada orang yang mempersepsikan, bukan pada suatu ungkapan ataupun obyek.
Aktivitas dari komunikasi intrapribadi yang kita lakukan sehari-hari dalam upaya memahami diri pribadi diantaranya adalah; berdo'a, bersyukur, instrospeksi diri dengan meninjau perbuatan kita dan reaksi hati nurani kita, mendayagunakan kehendak bebas, dan berimajinasi secara kreatif [1].
Pemahaman diri pribadi ini berkembang sejalan dengan perubahan perubahan yang terjadi dalam hidup kita. Kita tidak terlahir dengan pemahaman akan siapa diri kita, tetapi prilaku kita selama ini memainkan peranan penting bagaimana kita membangun pemahaman diri pribadi ini [2]
Kesadaran pribadi (self awareness) memiliki beberapa elemen yang mengacu pada identitas spesifik dari individu (Fisher 1987:134). Elemen di kesadaran diri adalah konsep diri, proses menghargai diri sendiri (self esteem), dan identitas diri kita yang berbeda beda (multiple selves).

Kesimpulan jurnal: Siswa-siswi di SMA adalah individu-individu yang berusia remaja. Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak ke masa dewasa. Pada masa ini, remaja mengalami perkembangan mencapai kematangan fisik, mental, sosial, dan emosional (dalam Ali & Asrori, 2004). Dalam berkomunikasi dengansesamanya, remaja pada dasarnya melakukan pengungkapan diri. Menurut Morton (dalam Dayakisni, 2003) pengungkapan diri merupakan kegiatan membagi perasaan dan informasi yang akrab dengan orang lain. Informasi di dalam pengungkapan diri ini bersifat deskriptif atau evaluatif.

SARAN
Berdasarkan hasil penelitian, maka
saran yang dapat diberikan sebagai
berikut:
1. Bagi siswa-siswi disarankan dapat meningkatkan pengungkapan diri dan lebih mengatur waktu yang tepat untuk menggunakan Facebook.
2. Bagi para Orang tua, diharapkan mengontrol anak-anaknya dalam menggunakan Facebook di kehidupan sehari-hari di rumah, serta membantu untuk meningkatkan pengungkapan diri anak-anaknya tidak hanya melalui media jejaring sosial tetapi dalam lingkungan rumah.
3. Bagi para Guru-guru, diharapkan mengontrol siswa-siswinya dalam penggunaan Facebook di lingkungan sekolah, baik dalam belajar mengajar maupun dalam waktu istirahat, serta membantu siswa-siswinya untuk meningkatkan pengungkapan diri tidak hanya melalui media jejaring sosial tetapi melalui kegiatankegiatan
sekolah maupun kegiatan-kegiatan di luar sekolah.
4. Bagi peneliti berikutnya, diharapkan mampu melakukan penelitian-penelitian yang lebih mendalam agar dapat menyumbangkan teori-teori yang lebih baik dari teori-teori yang sudah ada sebelumnya. Diharapkan juga dapat menambahkan variabel lain dan metode penelitian berbentuk.


Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_intrapersonal
HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS PENGGUNAAN FACEBOOK DENGAN PENGUNGKAPAN DIRI PADA SISWA-SISWI DI SMA NEGERI 8 BEKASI
Putri Ratna Juwita
Fakultas Psikologi, Universitas Gunadarma


Senin, 14 Oktober 2013

Bentuk Interaksi Sosial


Berdasarkan pendapat menurut Tim Sosiologi (2002), interaksi sosial dikategorikan ke dalam dua bentuk, yaitu (p. 49) :
1. Interaksi sosial yang bersifat asosiatif, yakni yang mengarah kepada bentuk - bentuk asosiasi (hubungan atau gabungan) seperti :
a. Kerja sama
Adalah suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
b. Akomodasi
Adalah suatu proses penyesuaian sosial dalam interaksi antara pribadi dan kelompok - kelompok manusia untuk meredakan pertentangan.
c. Asimilasi
Adalah proses sosial yang timbul bila ada kelompok masyarakat dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda, saling bergaul secara intensif dalam jangka waktu lama, sehingga lambat laun kebudayaan asli mereka akan berubah sifat dan wujudnya membentuk kebudayaan baru sebagai kebudayaan campuran.
d. Akulturasi
Adalah proses sosial yang timbul, apabila suatu kelompok masyarakat manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur - unsur dari suatu kebudayaan asing sedemikian rupa sehingga lambat laun unsur - unsur kebudayaan asing itu diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian dari
kebudayaan itu sendiri.
2. Interaksi sosial yang bersifat disosiatif, yakni yang mengarah kepada bentuk - bentuk pertentangan atau konflik, seperti :
a. Persaingan
Adalah suatu perjuangan yang dilakukan perorangan atau kelompok sosial tertentu, agar memperoleh kemenangan atau hasil secara kompetitif, tanpa menimbulkan ancaman atau benturan fisik di pihak lawannya.
b. Kontravensi
Adalah bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dan pertentangan atau konflik. Wujud kontravensi antara lain sikap tidak senang, baik secara tersembunyi maupun secara terang - terangan yang ditujukan terhadap perorangan atau kelompok atau terhadap unsur - unsur kebudayaan golongan tertentu. Sikap tersebut dapat berubah menjadi kebencian akan tetapi tidak sampai menjadi pertentangan atau konflik.
c. Konflik
Adalah proses sosial antar perorangan atau kelompok masyarakat tertentu, akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan yang sangat mendasar, sehingga menimbulkan adanya semacam gap atau jurang pemisah yang mengganjal interaksi sosial di antara mereka yang bertikai tersebut.
Ciri - Ciri Interaksi Sosial
Menurut Tim Sosiologi (2002), ada empat ciri - ciri interaksi sosial, antara lain (p. 23) :
a. Jumlah pelakunya lebih dari satu orang
b. Terjadinya komunikasi di antara pelaku melalui kontak sosial
c. Mempunyai maksud atau tujuan yang jelas
d. Dilaksanakan melalui suatu pola sistem sosial tertentu
Syarat - Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Berdasarkan pendapat menurut Tim Sosiologi (2002), interaksi sosial dapat berlangsung jika memenuhi dua syarat di bawah ini, yaitu (p. 26) :
a. Kontak sosial
Adalah hubungan antara satu pihak dengan pihak lain yang merupakan awal terjadinya interaksi sosial, dan masing - masing pihak saling bereaksi antara satu dengan yang lain meski tidak harus bersentuhan secara fisik.
b. Komunikasi

Artinya berhubungan atau bergaul dengan orang lain

Tes Psikologi

Pendahuluan


Definisi Tes Psikologi atau lebih dikenal sebagai Psikotes adalah tes untuk mengukur aspek individu secara psikis. Tes dapat berbentuk tertulis, visual, atau evaluasi secara verbal yangteradministrasi untuk mengukur fungsi kognitif dan emosional. Tes dapat diaplikasikan kepada anak-anak maupun dewasa. Tes ini dapat berbentuk tertulis, proyektif, atau evaluasi secara verbal yang teradministrasi untuk mengukur fungsi atau kemampuan kognitif dan emosional seseorang.
Tujuan Tes Psikotes digunakan untuk mengukur berbagai kemungkinan atas bermacam kemampuan secara mental dan apa-apa yang mendukungnya, termasuk prestasi dan kemampuan, kepribadian, intelegensi, atau bahkan fungsi neurologis, dan juga tespsikotes digunakan untuk mengukur berbagai kemungkinan atas bermacam kemampuan orang secara mental dan faktor-faktor yang mendukungnya, termasuk prestasi dan kemampuan, kepribadian, dan intelegensi. Jadi sederhananya, psikotes adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui gambaran seseorang mulai darikemampuan kognitifnya, kondisi emosinya, kecenderungan-kecenderungan sikap dan hal-hal yang mempengaruhi kecenderungan tersebut.
Jadi dalam psikotes, kemampuan yang diukur tidak melulu terkait dengan IQ seseorang. Selain tes IQ ada juga tes kepribadian, dan wawancaraDari integrasi tes-tes tersebut, maka akan diperoleh gambaran mengenai orang yang di tes yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.
Aplikasi Tes Psikologi dapat dilakukan pada bermacam setting termasuk rekrutmen dalam perusahaan, mengetahui minat dan bakat anak / siswa, tujuan klinis, perkembangan anak, atau kustomisasi design dan modul dalam pelatihan / training.
Psikotes merupakan bagian dari rangkaian seleksi sebuah lowongan kerja, yang kerap memiliki arti penting. Psikotes, percaya atau tidak, merupakan perangkat untuk menangkap kecenderungan para pelamar, yang meliputi kemampuan intelektual atau kepribadian, biasanya sering disebut dengan soal psikotes. Dua hal ini tentunya akandisesuaikan dengan karakteristik pekerjaan yang tersedia.
Sebenarnya, proses psikotes itu sendiri cukup spesifik: dimulai dari perusahaan yang membuka lowongan kerja untuk beberapa posisi. Lalu perusahaan tersebut menetapkan sejumlah kualifikasi yang harus dipenuhi para pelamar kerja. Untuk alasan efisiensi, biasanya perusahaan tersebut meminta bantuan pada lembaga psikologi terapan untuk mengadakan psikotes yng dibutuhkan. Langkah selanjutnya, dengan gambaran kualifikasi yang ditetapkan perusahaan, lembaga tersebut berusaha menangkap kemampuan dan kecenderungan untuk memenuhi kualifikasi tersebut. Sekilas Psikotes atau Tes Psikologi



Teori :

Tes Psikologi atau lebih dikenal sebagai Psikotes adalah tes untuk mengukur aspek-aspek individu secara psikis, dalam hal ini yang diukur adalah kecenderungan perilaku. Tes biasanya berbentuk tertulis namun dalam beberapa tes ada juga yang bersifat verbal atau visual. misalnya saja evaluasi yang teradministrasi untuk mengukur fungsi tertentu. Yang paling umum adalah mengenai kognitif (biasa disebut intelligence atau IQ), dan afektif (lebih bersifat personality atau juga emosional). Adapula yang mengukur langsung secara konatif, biasanya umum dilakukan dalam tes assessment. Tes dapat diaplikasikan kepada anak-anak maupun dewasa.
Tujuan
Tes Psikologi digunakan untuk mengukur berbagai kemungkinan atas bermacam kemampuan secara mental dan apa-apa yang mendukungnya, termasuk prestasi dan kemampuan, kepribadian, intelegensi, atau bahkan fungsi neurologis. Sebagaimana yang telah diungkapkan dalam tulisan diatas; inti pengukuran adalah untuk meramalkan konatif (kecenderungan perilaku) yang diperoleh melalui psikotes (tes kognitif dan afektif) maupun assessment (mengungkap konatif secara langsung).
Aplikasi
Tes Psikologi dapat dilakukan pada bermacam setting termasuk rekrutmen dalam perusahaan, mengetahui minat dan bakat anak / siswa, tujuan bersifat klinis untuk melihat lebih detail gangguan perilaku yang muncul, perkembangan anak, atau kustomisasi design dan modul dalam suatu pelatihan ataupun training (biasanya banyak dikembangkan dalam Outbound Management Training).
Beberapa aplikasi umum yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1.     Keperluan Industri
2.    
Diaplikasikan dalam perekrutan karyawan, eskalasi dan mutasi karyawan, atau sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Apapun jenis usaha anda, pemeriksaan psikologis dapat dilakukan secara kelompok (klasikal) atau individual.
2. Keperluan Pendidikan

Jasa pemeriksaan psikologis juga meliputi Pengukuran, Bimbingan konseling, dan Pelatihan untuk pendidikan. Dari mulai Playgroup, TK, SD, SMP, dan SMU. Arah pemeriksaan dapat ditujukan untuk mengukur intelegensi (IQ), arah minat dan bakat, keajegan belajar, konsentrasi, kematangan emosional, interaksi sosial, kepercayaan diri, dan lain sebagainya.
3. Keperluan Management Training

Tes psikologi juga dapat dilakukan untuk memetakan kebutuhan secara organisasi atau individu dalam pelatihan manajemen. Biasanya diaplikasikan kedalam bentuk Outbound Management Training atau In Class Training. Sifat pelatihan ini terukur, karena menyertakan psikotes dalam pre-test dan post-test. Tujuan pelatihan ini bersifat team building dan organisasi untuk peningkatan skill leadership, communication skills, planning, change management, delegation, teamwork, dan motivation, atau apa saja sesuai kebutuhan. Kelebihan pelatihan ini, seluruh aspek perilaku dan kebutuhan akan diungkap melalui psikotes, dan modul design akan diterapkan sesuai dengan kebutuhan yang muncul dari hasil psikotes tersebut.

Analisis:
Ada beberapa jenis tes psikologi yang dipergunakan dalam proses pengujian seseorang dalam hal ini adalah seleksi calon tenaga kerja. Akan tetapi tidak selalu semua jenis tes diberikan kepada tesee (subjek yang dites). Pemberian soal tes ini bergantung pada keperluannya.

Lee J. Cronbach, dalam Essentials of Psychological Testing edisi tahun 1949, membagi dua kelompok besar tes psikologi ini, yaitu berikut ini:


1. Tes Kemampuan (inteligensi)

Tes ini dimaksudkan untuk mengetahui prestasi maksimal yang diperlukan dalam meneliti kemampuan dan kecakapan. Kecakapan merupakan potensi seseorang untuk memperoleh tindakan melalui pelatihan. Seseorang tidak akan pernah tahu apakah kecakapan itu kendati pun ia telah mencapai tingkat tertentu setelah pelatihan. Kita tidak dapat meyakinkan bahwa dengan pelatihan dan motivasi yang lebih baik, ia akan berbuat lebih baik.


Adapun kemampuan adalah lebih nyata. Kemampuan dapat diartikan sebagai prestasi seseorang atas tugas yang diberikan saat itu dengan motivasi maksimal, tetapi tanpa pelatihan, kemampuan tak mungkin lebih baik dari kecakapaii. Terkadang faktor emosional turut mempengaruhi sehingga kemampuan tidak dapat muncul seperti aslinya.


Tes prestasi maksimal termasuk dalam bentuk tes kemampuan. Tes kemampuan mendefinisikan kata yang .¡digunakan untuk memprediksi prestasi akademik, menjawab pertanyaan tentang pekerja yang ahli dan yang bukan ahli, serta merespon tanda secara otomatis untuk memilih pelamar dalam bidang tertentu.


2. Tes Kebiasaan (Kepribadian)

Tes prestasi khusus dipakai dalam meneliti kebiasaan dan kepribadian seseorang. Ada sedikit nilai yang menentukan seberapa sopan peserta tes • yang diinginkan. Aspek kepribadian peserta tes, misalnya kejujuran, keterbukaan, emosi, dan lain-lain. Kepribadian biasanya dianalisis dengan cara deskriptif, tanpa usaha yang dibuat untuk mempertimbangkan sifat-sifat yang diharapkan.